Home » » MAKALAH : MENDIDIK ANAK DI TENGAH TANTANGAN ZAMAN

MAKALAH : MENDIDIK ANAK DI TENGAH TANTANGAN ZAMAN

MENDIDIK ANAK DI TENGAH TANTANGAN ZAMAN
Oleh : Daniel F. Iswahyudi, S.Th.

PENDAHULUAN
Masalah anak dan remaja masa kini sungguh kompleks. Ayah dan ibu pun harus bahu-membahu dalam mendidik dan membina anak-anak mereka. Ibu Ani, sebut saja begitu, tersentak saat menemukan kalimat ‘aneh’ di buku anaknya. Kalimat itu kurang lebih begini, …”Aku mencintaimu. Nanti kita mandi bareng, baru ciuman.” Sang buah hati masih duduk di kelas 1 SD. Wanita itu tidak membayangkan anak seusia anaknya berpikiran seperti dalam kalimat yang ditulisnya. Tak percaya dengan ungkapan dalam kalimat itu, Ani lalu bertanya, `’Ini tulisanmu, ya?”`’Ya, tapi disuruh (teman),” jawab si anak. Merasa tidak puas, Ani menyampaikannya kepada guru kelas. Sang guru mengatakan, teman anaknya itu memang suka menyuruh teman-temannya menuliskan hal-hal semacam itu. Ani pun bertanya, “Bagaimana saya bicara ke anak saya?”

Kalau anak sudah menulis seperti itu, orang tua jangan lagi membuang waktu. Misalnya, menunggu waktu yang dianggap tepat untuk mengatasinya. Apalagi berharap penyelesaian dari guru di sekolah. Anak kita harus kita urus sendiri. Masalah anak dan remaja saat ini memang berat. Orang tua sibuk dengan banyak persoalan, juga serbuan media seperti koran, majalah, televisi, video hingga internet. Mengharapkan sekolah untuk bisa mengatasinya, pun tidak mudah, karena umumnya sekolah lebih mengedepankan perkembangan otak kiri.


Dalam Amsal 22:6 dikatakan “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”
Ini adalah sebuah perintah dan janji yang datang dari Tuhan bagi setiap orang tua dan para pembina anak. Perintah untuk mendidik anak dan janji bahwa pendidikan yang dilakukan sejak dini itu akan terus tertanam hingga ia dewasa. Dan setiap orang tua pasti merindukan anak-anaknya memiliki karakter yang baik mulai dari kecil hingga mereka dewasa. Tetapi, mendidik anak sehingga anak menjadi seperti yang diharapkan orang tua, bukanlah hal yang mudah. Ada tantangan yang harus dihadapi oleh orang tua sebagai pendidik dan pembimbing anak. Tantangan itu bisa berasal dari diri orang tua sendiri, maupun dari lingkungan dan media modern saat ini.


I. TANTANGAN DARI DIRI ORANG TUA
Ketika anak tidak mau mendengarkan nasihat orang tua, bertindak semau sendiri dan suka memberontak melawan orang tua, maka orang tua seperti mendapat tantangan dalam mendidik anak-anaknya. Tetapi tanpa disadari, jauh sebelum sifat dan perilaku yang ‘tidak baik’ itu muncul, orang tualah yang kemungkinan salah mendidik atau salah memberikan teladan kepada mereka. Kalau bicara tantangan, sebenarnya tantangan yang pertama dan paling utama, berasal dari orang tua sendiri. Tantangan dari diri orang tua lebih bisa disebut kesalahan-kesalahan orang tua dalam mendidik anak atau dalam membangun hubungan dengan anak-anaknya.

Ada beberapa kesalahan yang harus dibenahi dari pihak orang tua dalam hal ini:

1. Gagal Menjadi Pendengar
Menurut psikolog Charles Fay, Ph.D. “Banyak orang tua cenderung mengabaikan apa yang anak mereka ungkapkan.” Contohnya: suatu hari anak pulang dengan baju kotor, pipi dan matanya lebam membiru, ada sedikit darah kering di sela bibirnya yang terluka. Apa reaksi orang tua? Ada orang tua yang langsung menghakimi anaknya berkelahi dan langsung menghukumnya. Ada juga yang bereaksi dengan mencecar anaknya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi. Dan tidak banyak yang mendudukkan anaknya, memberi minum dan membiarkan anaknya tenang, kemudian duduk di hadapannya dan berkata, ceritalah nak, ibu/ayah siap mendengarkan….

Menjadi pendengar yang baik itu berarti mendengarkan dengan sungguh-sungguh tanpa menginterupsi dan tanpa terganggu oleh keadaan sekitar, atau memalingkan perhatian ke hal yang lain selama anak bercerita. Dengan mendengar anak-anak Anda secara aktif berarti menganggap bahwa mereka cukup istimewa untuk menerima perhatian penuh dari Anda. Berikan tanggapan yang bukan hanya sekedar basa-basi ketika anak Anda mengungkapkan atau menceritakan apa yang telah terjadi atau yang mereka rasakan. Biarkan mereka membangun kebiasaan berkata jujur dan terbuka tanpa rasa takut, sejak mereka kecil. Karena ini akan sangat berpengaruh ketika mereka menginjak remaja dengan pergaulan dan pengaruh dunia luar yang kompleks.

Bila anak kita sedang bercerita pada kita, jangan memotong cerita anak. Jangan mendengarkan dengan posisi tiduran, karena saya yakin Anda akan tertidur sebelum anak selesai bercerita. Jangan mendengarkan cerita sambil melakukan kegiatan lain, seperti nonton TV, main komputer, makan, dll. Itu menunjukkan bahwa kita tidak sungguh berminat mendengarkan anak kita. Jangan menghakimi atau mengecam anak, ketika ia mengungkapkan kejujuran yang ternyata berisi pelanggaran atau kenakalan. Hargailah kejujurannya, kalau memang harus dihukum, kurangilah hukumannya sebagai reward atas kejujurannya.

Keberhasilan kita mendengarkan anak kita akan terlihat dengan imbal balik anak mendengarkan kita. Tetapi bila kita tidak mau atau gagal mendengarkan anak kita, jangan heran dan marah ketika mereka tidak lagi mau mendengarkan kita. Jangan menjadi orang tua yang otoriter, yang menganggap setiap perkataan kita harus didengarkan, sementara kita sendiri tidak mau mendengarkan. Mendengarkan itu memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Ingat apa yang kita tabur, itu yang kita tuai.

2. Gagal Untuk Berbagi
Anak-anak membutuhkan perhatian, diajak berbicara, kebenaran, kepercayaan, sentuhan, ucapan terima kasih, dll. Itu semua adalah bentuk dari kesediaan kita sebagai orang tua untuk berbagi kepada anak. Kadang-kadang cerita-cerita kita di masa kecil/remaja merupakan cerita yang menarik dan bisa diteladani bagi anak-anak kita. Diskusikan hal-hal yang membebani anak atau justru membebani kita dalam waktu bersama, sehingga terbentuk sebuah keterikatan saling membutuhkan antara kita dan anak kita.

Kegagalan untuk berbagi ini bisa disebabkan karena kesibukan orang tua sehingga tidak punya waktu atau kurang waktu untuk bertemu dengan anak. Apalagi di kota-kota besar yang kebanyakan kedua orang tua bekerja. Bukan kwantitas waktu yang saya bicarakan di sini, tetapi kualitas waktu kebersamaan kita dengan anak, itulah yang lebih penting. Jadikan waktu bersama dengan anak menjadi waktu yang menyenangkan. Nikmati kebersamaan itu sehingga anak tahu, bahwa ayah ibunya juga senang bersama dengan mereka.

Mendengarkan dan didengarkan adalah bentuk dari hasrat untuk berbagi. Kita memberi pendapat, dan biarkan anak juga mengemukakan pendapatnya. Kita memberi nasihat, biarkan pula mengungkapkan nasihatnya. Luangkan waktu bersama anak minimal 10 menit disela kesibukan kita. Jadikan waktu libur, adalah waktu untuk keluarga. Jangan berdalih pekerjaan atau pelayanan lebih penting. Keluarga kita adalah tanggung jawab kita yang pertama sebelum kita melayani orang lain. Dan pastikan anak tahu saat bersama orang tua adalah waktu yang tidak dapat diinterupsi.

Kegagalan yang lain mungkin disebabkan oleh ketidakpedulian orang tua akan perkembangan anak mereka. Ayah menganggap pendidikan anak adalah kewajiban ibu, ibu menganggap ayah tidak mendukung, sehingga yang terjadi kemudian lebih kepada tidak peduli. Yah, biarkan saja anak tumbuh dengan sendirinya, toh di sekolah mereka sudah mendapatkan pendidikan.

Menurut Louis Hodgson, ibu 4 anak dan nenek 6 cucu, “anak sekarang mempunyai banyak benda untuk dikoleksi”. Tidaklah salah memanjakan anak dengan mainan dan liburan yang mewah. Tetapi yang seharusnya disadari adalah anak Anda membutuhkan quality time bersama orang tua mereka. Mereka cenderung ingin didengarkan dibandingkan diberi sesuatu dan diam.

Kenali bagaimana anak Anda bertumbuh dan mengembangkan pikiran- pikiran dan kreativitasnya. Hasil riset yang telah dilakukan menemukan bahwa 'seorang ayah yang berhasil' mengetahui apa yang dilakukan oleh anaknya ketika merasa sedih, menghadapi hari yang sulit, hal-hal apa saja yang membuat anak mereka merasa senang, kelebihan dan kekurangan dari anak-anak mereka, nama-nama teman anak mereka, dan lain sebagainya. Anda dapat mengenal anak Anda dengan meluangkan waktu sejenak bersama dengan anak-anak Anda.

3. Tidak Konsisten
Kadangkala orang tua sendiri tidak konsisten dengan apa yang mereka katakan, sehingga gagal menegakkan aturan dan norma kebenaran dalam rumah. Hari ini melarang, besok mengizinkan, atau ibu melarang tetapi ayah memperbolehkan. Sehingga dalam rumah ada aturan ganda. Ada dualisme yang membuat anak bingung harus melakukan yang mana. Bila orang tua tidak konsisten, maka anak akan berpikir bahwa setiap aturan yang diterapkan dalam rumahnya, tidak kuat dan gampang untuk dilanggar. Jangan biarkan mereka memohon dan merengek menjadi senjata yang ampuh untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Orang tua harus tegas dan berwibawa dihadapan anak. Disamping itu, bila kita membuat aturan, jangan pula kita yang melanggarnya. Seringkali orang tua membuat aturan, ketika anak melanggar, orang tua menghukum, tetapi ketika orang tua melanggar, siapa yang menghukum???

Sikap konsisten tidak hanya menyangkut aturan, tetapi juga janji-janji yang diucapkan kepada anak. Setiap janji harus ditepati, apapun konsekuensinya. Anak-anak di sekolah minggu diajari bahwa Janji Tuhan Ya dan Amin, artinya selalu ditepati. Darimana mereka belajar, penggenapan janji ini, kalau tidak dari orang tuanya. Bila ayah atau ibu suka mengingkari janji, maka gambaran anak akan Bapa di Sorga yang tidak pernah ingkar janji akan rusak.

Sikap konsisten orang tua mengenai penegakan aturan dan ketepatan janji, akan membuat anak percaya pada orang tuanya. Tidak hanya takut dan hormat, tetapi akan bangga kepada ayah atau ibu yang bisa dipercayai.

4. Gagal Menjadi Teladan
Menurut psikiater Sara B. Miller, Ph.D., perilaku yang paling berpengaruh merusak adalah “bertengkar” dihadapan anak. Saat orang tua bertengkar di depan anak mereka, khususnya anak lelaki, maka hasilnya adalah seorang calon pria dewasa yang tidak sensitif yang tidak dapat berhubungan dengan wanita secara sehat. Orang tua seharusnya menghangatkan diskusi diantara mereka, tanpa anak-anak disekitar mereka. Wajar saja bila orang tua berbeda pendapat tetapi usahakan tanpa amarah. Jangan ciptakan perasaan tidak aman dan ketakutan pada anak.

Ini hanyalah salah satu bentuk keteladanan orang tua kepada anak. Bentuk keteladanan yang baik dari orang tua dibutuhkan dalam segala aspek perilaku dan perkataan. Orang tua ibarat guru: digugu dan ditiru, kalau orang tua kencing berdiri, anak kencing berlari. Artinya, apa yang kita teladankan, maka anak akan melakukannya lebih lagi. Kita beri dia teladan buruk, maka ia akan berperilaku lebih buruk lagi. Bila kita gagal memberi teladan yang baik kepada anak, maka bisa dipastikan, suatu saat perilaku anak akan menjadi bumerang yang menyusahkan kita.

Anak adalah peniru yang ulung. Anak akan mengucapkan apa yang dia dengar dan melakukan apa yang dia lihat. Berilah anak teladan yang baik dalam berbicara, dalam kesopanan dalam pengenalan akan Tuhan, dalam doa, dalam ibadah, dll. Teladan kita lebih keras berbicara, ketimbang perkataan kita. Berilah mereka teladan, maka mereka akan menirunya.

5. Gagal Membina Cinta Kasih
Tunjukan kasih sayang Anda pada istri di depan anak-anak. Perkataan dan tindakan yang berjalan bersama-sama memberikan bukti yang menyakinkan bahwa ayah mencintai ibu dan semua berjalan dalam satu kesatuan. Hal ini penting karena bagi anak seorang ayah merupakan contoh seorang pemimpin yang patut ditiru. Cinta itu juga berarti menerima apa adanya dan selalu bersedia mengampuni kesalahan orang lain.

Di atas semua keteladanan dan didikan kepada anak, letakkan dasar kasih. Dalam setiap ajaran, setiap hukuman, setiap nasihat dan aturan, kita membutuhkan kasih. Hajarlah anak dengan kasih, nasihati mereka dengan kasih, teladankan kepada mereka hubungan yang penuh kasih dengan menunjukkan cinta kasih antara suami dan istri. Anak akan melihat ayah mengasihi ibu, ibu mengasihi ayah, orang tua mengasihi anak, dengan demikian mereka juga akan melakukannya dengan kasih.

Bila kita gagal membangun hubungan yang penuh cinta kasih ini, maka bisa dipastikan anak-anak akan tumbuh dengan hati yang luka dan pahit. Kekecewaan karena tidak menemukan kasih di rumah, maka mereka akan mencarinya di luar rumah. Dengan bergaul dengan komunitas yang mau menerima mereka, berpacaran, free sex, dan narkoba. Pelarian dari anak yang kurang mendapat perhatian dan cinta dari orang tuanya, lebih cenderung ke arah yang negatif dan merugikan diri si anak.

Oleh sebab itu, limpahilah anak-anak dengan kasih. Agar mereka tidak perlu mencarinya di luar rumah. Terima mereka apa adanya, agar mereka juga tidak perlu mencari penerimaan di luar rumah. Untuk membina cinta kasih yang sesungguhnya, bacalah dan lakukanlah I Korintus 13. Ini akan membuat hubungan antara ayah dan ibu jadi baik dan berdampak pada hubungan yang baik dengan anak dan orang tua.

II. TANTANGAN DARI LINGKUNGAN
Lingkungan di sekitar kita dan lingkungan bergaul anak akan sangat berpengaruh kepada anak. Kecerdasan, mental dan kerohanian anak lebih banyak ditentukan oleh lingkungan dimana dia berada, ketimbang sifat yang diturunkan oleh orang tuanya. Bila mereka hidup di lingkungan yang baik, suka belajar dan bekerja, cinta Tuhan dan suka melayani, maka mereka akan tumbuh menjadi anak yang cerdas, cinta Tuhan dan peduli dengan sesamanya.

Tetapi coba kita biarkan anak kita hidup di lingkungan orang-orang malas, tidak takut Tuhan, dan suka berbuat kejahatan, maka bisa dipastikan, mereka akan menjadi anak yang berandalan, pemakai atau bahkan pengedar narkoba dan hidup dalam kegagalan. Salah satu contoh anak dalam Alkitab yang hidupnya dipengaruhi lingkungannya ada dalam : Hakim-hakim 11:1

1. Lingkungan Keluarga
Lingkungan yang paling utama itu adalah keluarga. Sudahkah ayah dan ibu menjadi teladan yang baik? Sudahkah seluruh orang dewasa dalam keluarga kita sehati dalam melakukan pendidikan dan pembinaan kepada anak kita? Sudahkah keluarga menjadi tempat menyenangkan bagi anak kita? Bila rumah dan keluarga kita adalah tempat menyenangkan bagi anak kita, maka bisa dipastikan, mereka tidak akan mencarinya di luar rumah. Dan itu artinya perkembangan pribadi anak akan mudah dikontrol.

2. Masyarakat Di Sekitar Tempat Tinggal Kita
Perhatikan bagaimana tetangga-tetangga di mana kita tinggal. Perhatikan bagaimana anak-anak kita bergaul dengan mereka. Pengaruh apa yang paling banyak diterima anak kita dari mereka? Bila pengaruh buruk yang lebih banyak ‘ditularkan’ maka orang tua harus pandai-pandai mengatur waktu bermain mereka dengan anak-anak di sekitar kita.

3. Lingkungan Sekolah
Di sekolah tidak hanya pengaruh baik yang diterima anak. Tetapi ada juga anak-anak yang “nakal” dan suka bicara/berlaku tidak baik. Pengaruh ini akan diserap anak dan akan dibawa pulang. Itu sebabnya tidak heran ketika ada orang tua yang mengeluh ketika anaknya “bicara kasar” atau “Ngomong jorok” di rumah. Padahal di dalam keluarga tidak pernah ada yang mengajarkan demikian. Ada baiknya bila secara berkala orang tua juga memonitor pergaulan anak dengan cara datang sendiri ke sekolah dana memperhatikan bagaimana teman-teman bergaul anak kita di sekolah, atau berkomunikasi dengan gurunya mengenai hal ini.

4. Teman-Teman Bergaul Anak Kita
Selain teman di rumah, teman di lingkungan kita, teman di sekolah, kadang-kadang anak-anak kita juga memiliki lingkungan bergaul sendiri. Misalnya mereka memiliki kelompok belajar, kelompok home schooling, kelompok kursus, kelompok band atau kelompok di gereja. Bila hubungan orang tua dan anak saling terbuka dan saling percaya, maka hal ini mudah dimonitor. Tetapi bila hubungan antara anak dan orang tua dalam “masalah” maka pergaulan mereka akan sulit kita pantau. Tak heran bila suatu hari orang tua mendapati anaknya berpenampilan “aneh”, merokok, atau bahkan menjadi pecandu narkoba. Bila hal itu yang terjadi, maka sia-sialah semua ajaran yang baik yang diajarkan di rumah, di gereja atau di sekolah. Ingat ayat ini: 1 Korintus 15:33 “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.”

Lalu bagaimana agar anak-anak kita tidak terbawa pada pengaruh buruk pergaulan mereka? Cara yang paling mudah tetapi tidak mudah memulainya adalah dengan membangun mezbah keluarga. Pastikan selalu ada waktu untuk mezbah keluarga! Sebab dalam mezbah keluarga ini kita bisa berbagi cerita dan saling terbuka tentang kejadian-kejadian dalam keseharian kita dan anak kita. Di samping itu kita bisa saling mendoakan di antara anggota keluarga. Dan dengan cara yang tidak kita mengerti Doa itu akan memagari kita dan anak kita dari pengaruh buruk dunia ini.

III. TANTANGAN DARI MEDIA MASA KINI
Media cetak dan elektronik sudah menjadi barang yang dengan mudah bisa kita nikmati di mana saja. Dapat dipastikan bahwa setiap orang sudah pernah menggunakannya, setidaknya mengetahui dan melihatnya. Memang, di zaman yang sudah serba canggih ini peranan media massa semakin penting. Dengan keberadaan mereka, kita bisa mendapatkan berbagai informasi dari berbagai belahan dunia. Selain itu, media massa juga bisa menjadi sarana hiburan saat kepenatan mulai kita rasakan.

Bila dimanfaatkan dengan tepat, media massa bisa menjadi alat yang akan memperkaya pengetahuan kita. Namun sebaliknya, media massa juga bisa menjadi "pembunuh" bila tidak digunakan dengan bijaksana. Tidak hanya orang dewasa saja yang bisa menjadi korbannya, saat ini anak-anak pun sangat berpeluang menjadi korban. Perhatikan saja, berapa lama seorang anak duduk di depan televisi atau permainan setiap harinya. Perhatikan juga berapa banyak majalah dan buku cerita yang sering kali dengan jelas menampilkan cerita-cerita yang mengandung unsur kekerasan, pornografi dan okultisme.
Di sinilah sikap bijaksana dan selektif orang tua sangat berperan. Orang tua harus pandai mengatur dan mengontrol anak-anak mereka supaya mereka tidak dikuasai oleh media massa. Mengingat pengaruh buruk media massa terhadap anak jika tidak digunakan dengan tepat.

Menurut Neilsen Media Research, anak-anak Amerika yang berusia 2-11 tahun menonton 3 jam dan 22 menit siaran TV sehari. Menonton televisi akan membuat anak malas belajar. Tetapi sayangnya, orang tua cenderung membiarkan anak berlama-lama di depan TV daripada mengganggu aktifitas orang tua. Orang tua sangat tidak mungkin dapat memfilter masuknya film atau iklan negatif yang tidak mendidik.

1. TELEVISI
Mungkin televisi merupakan kekuatan yang dapat dengan mudah merembes masuk ke dalam masyarakat kita. Anda dan anak Anda perlu terampil dalam menyaring hal-hal mana yang dapat Anda terima dan mana yang tidak, selama menghadapi tabung ajaib ini. Dalam hal ini, keterampilan untuk menyaring itu lebih diperlukan dibandingkan dalam hal-hal lainnya. Tergantung dari kebiasaan-kebiasaan menonton dan waktu yang dihabiskan untuk itu, televisi dapat memberikan pengaruh yang positif atau negatif terhadap anak Anda.
Dilihat dari segi negatifnya, terlalu banyak menonton televisi atau menonton televisi tanpa pengarahan dan didikan tertentu dari orang tua, dapat memberi pengaruh yang merugikan seperti di bawah ini.
1. Iklan di televisi itu memengaruhi anak untuk menginginkan dan membeli barang-barang yang belum tentu baik untuk dia atau yang tidak betul-betul diperlukannya.
2. Televisi dapat dijadikan tempat pelarian dari kenyataan hidup yang sebenarnya.
3. Benda ini dapat menggantikan persahabatan dan suasana bermain yang aktif, menghalang-halangi kreativitas, dan perkembangan pribadinya.
4. Televisi dapat menyebabkan beberapa anak tertentu menjadi agresif dan bahkan kejam.
5. Televisi dapat menyebabkan seorang anak mempunyai pandangan yang tidak realistis tentang dunia ini.
Akan tetapi jika digunakan dengan benar, televisi dapat bermanfaat.
1. Televisi dapat mengumpulkan dan mendekatkan keluarga.
2. Televisi dapat merangsang percakapan di antara para anggota keluarga.
3. Televisi itu dapat melegakan perasaan tertekan dan memberi perasaan santai kepada seorang anak.
4. Televisi dapat menjadi hiburan yang sehat.
5. Televisi dapat menjadi sarana bagi seorang anak untuk memperoleh informasi, gagasan, dan pandangan yang lebih luas.
6. Televisi dapat memperluas persepsi seorang anak tentang dunia ini.

Tiga pertanyaan di bawah ini merupakan pertanyaan yang paling penting.
1. Berapa lama sebaiknya menonton televisi itu?
2. Acara-acara yang bagaimana yang sepatutnya dihindari?
3. Bagaimana cara Anda meningkatkan daya saring anak Anda dalam memilih apa yang akan ditontonnya pada layar televisi?
Ada banyak pendapat yang berbeda-beda, tetapi beberapa prinsip berikut ini pada umumnya dapat diterima.
1. Tidak menjadi soal berapa jam sehari atau seminggu anak Anda diperkenankan menonton televisi (sebagian mengatakan satu jam sehari itu batasnya; yang lainnya mengatakan boleh sampai empat jam), tetapi demi kesehatan mentalnya, tidaklah baik bagi seorang anak untuk menonton televisi lebih dari dua jam secara terus-menerus (atau lebih tepat, maksimal dua jam per hari). Menonton adalah suatu kegiatan yang pasif, sedangkan dalam kehidupan ini orang yang aktif melakukan sesuatu jauh lebih produktif daripada orang yang hanya sekadar menjadi pengamat.
2. Pengaturan waktu atau menonton pada saat yang tepat itu sama pentingnya dengan jumlah waktu yang dipergunakan untuk menonton. Apakah waktu yang dipergunakan untuk Anda sekeluarga menonton televisi itu mengganggu waktu Anda sekeluarga makan bersama atau menjadi pengganti saat Anda sekeluarga bercakap-cakap dengan santai? Apakah menonton televisi telah merampas waktu bercerita sebelum tidur atau waktu Anda sekeluarga berdoa bersama? Apakah menonton televisi itu telah menyisihkan kesempatan untuk Anda sekeluarga berjalan-jalan pada waktu sore, bermain, atau membaca bersama-sama sebagai satu keluarga?

Berikut ini langkah/tips praktis yang dapat Anda terapkan.
1. Berikan teladan. Sikap orangtua akan ditiru anak. Sebaiknya orangtua lebih dulu menentukan batasan bagi dirinya sendiri dulu sebelum membuat batasan bagi anaknya. Misalnya, orangtua hanya menonton TV pada saat merasa lelah atau bosan pada kegiatan lain. Dengan begitu, Anda tidak menjadikan menonton TV sebagai menu utama setiap hari. Jangan hidupkan TV sepanjang waktu. Matikan TV ketika sedang makan, berdoa bersama, bercengkerama, atau belajar.
2. Hindari memanfaatkan TV sebagai babysitter. Di tengah kesibukan kerja, para orangtua lebih merasa aman dan tenang jika anak duduk manis di depan pesawat TV ketimbang main di luar. Tingginya angka kejahatan dan semrawutnya lalu lintas sudah membuat orangtua mengkhawatirkan keselamatan putra- putrinya. Untuk mengalihkan menonton TV, berikanlah aktivitas positif bagi anak seperti ikut kursus, olahraga, berkebun, mewarnai, memancing, membantu memasak, dan sebagainya.
3. Buat jadwal. Ajak anak bersama-sama membuat jadwal kegiatan anak pulang sekolah. Yang penting beri porsi tidak lebih dari dua jam untuk menonton TV.
4. Letakkan pesawat TV di tempat terbuka. Dengan begitu Anda bisa memantau acara apa yang sedang ditonton anak. Namun begitu, usahakan juga letak pesawat TV tidak menjadikannya sebagai pusat aktivitas keluarga. Jangan menempatkan TV di kamar anak (kalau radio boleh).
5. Pakailah TV untuk mendidik. Ada beberapa acara TV yang bagus ditonton bersama seperti program dokumentasi, edutainment (tayangan edukatif yang menghibur seperti discovery), kuis, olahraga, konser musik klasik, talk show, (lihat dahulu "Acara TV" yang layak ditonton -- biasanya terdapat di koran).
6. Diskusikan adegan anti sosial di TV. Ajaklah anak membahas: Apakah kata-kata kasar yang diucapkan patut ditiru? Apakah perilaku kekerasan itu layak dicontoh? Apakah setiap masalah harus diselesaikan dengan berkelahi? Diskusikan dan bandingkan nilai-nilai yang ada dalam TV dengan nilai kristiani.
7. Terangkan antara fakta dan fiksi. Anak masih kesulitan membedakan antara fiksi dan fakta. Tokoh drakula yang Anda anggap biasa saja, bisa membuat anak ketakutan dan susah tidur. Terangkan proses pembuatan film/sinetron laga dan misteri, termasuk trik-trik pembuatannya. Apakah darah yang muncrat itu sungguhan? Mengapa jagoannya bisa terbang? Jelaskan bahwa untuk adegan yang berbahaya dilakukan pemeran pengganti yang terlatih. Ada teknik tertentu untuk memuat pemainnya bisa mengecil, menghilang dan menembus tembok. Jelaskan juga tali (sling) yang dipakai untuk membuat pemainnya bisa melayang.
8. Diskusikan tayangan iklan. Mengapa ada iklan di TV? Apa tujuan iklan? Mengapa iklan selalu tampak menarik? Apakah iklan pernah menunjukkan kekurangan barang yang diiklankan? Apakah iklan yang bagus berarti barang yang diiklankan pasti bagus? Tunjukkan barang-barang yang paling sering diiklankan di TV. Ajak anak membandingkan: lebih bagus mana penampilan sebenarnya dengan yang di TV?
9. Rumuskan bersama aturan menonton TV. Aturan ini berlaku untuk semua anggota keluarga, juga pembantu, babysitter, famili, teman, tamu atau tetangga yang nebeng menonton.
10. Tolaklah semua media yang mengandung kekerasan. Bukan hanya TV, PlayStation pun mengandung banyak adegan kekerasan. Buatlah kesepakatan bahwa tidak ada tempat dalam keluarga bagi media yang mengandung kekerasan. Entah itu berupa TV, VCD/CD, PlayStation, Video Games, radio, kaset atau bacaan.
Anak Anda dapat dengan bijaksana memilih acara mana yang akan ditontonnya. Percayalah bahwa Allah dapat memberi hikmat dan bersiapsedialah untuk mulai terjun dalam pertempuran khusus ini. Televisi tidak perlu menjadi monster di dalam keluarga Anda.

2. GAME
Banyaknya permainan yang tidak sesuai dengan usia anak membuat perkembangan anak dapat terganggu. Terlebih lagi usia anak-anak adalah usia dimana mereka menirukan apa yang mereka lihat, tanpa mengetahui konsekuensinya. Kalau yang mereka lihat hal-hal yang baik, tentunya tidak masalah jika mereka menirukannya. Namun jika yang mereka lihat adalah hal-hal yang buruk, seperti kekerasan, seksualitas, dan lain-lain, tentunya akan berpengaruh buruk pula pada psikologi mereka.

Mari bersama-sama melihat sejauh mana dampak negatif video game yang bisa menjadi candu bagi anak-anak kita. Dalam hal ini bukan dampak yang bersifat sementara, namun dampak yang bersifat jangka panjang, yang sedikit banyak berpengaruh pada perkembangan aspek pendidikan, kesehatan, keadaan psikis anak, dan kehidupan sosial anak.
1. Aspek Pendidikan. Anak yang gemar bermain video game adalah anak yang sangat menyukai tantangan. Anak-anak ini cenderung tidak menyukai rangsangan yang daya tariknya lemah, monoton, tidak menantang, dan lamban. Hal ini setidaknya berakibat pada proses belajar akademis. Suasana kelas seolah-olah merupakan penjara bagi jiwanya. Tubuhnya ada di kelas, tetapi pikiran, rasa penasaran, dan keinginannya ada di video game. Sepertinya sedang belajar, tetapi pikirannya sibuk mengolah bayang-bayang game yang mendebarkan. Kadangkala anak juga jadi malas belajar atau sering membolos sekolah hanya untuk bermain game.
2. Aspek Kesehatan Dari sisi kesehatan, pengaruh kecanduan video game bagi anak jelas banyak sekali dampaknya. Untuk menghabiskan waktu bermain game, anak yang telah kecanduan tidak hanya membutuhkan waktu yang sedikit. Penelitian Griffiths pada anak usia awal belasan tahun menunjukkan bahwa hampir sepertiga waktu digunakan anak untuk bermain video game setiap hari. "Yang lebih mengkhawatirkan, sekitar 7%-nya bermain paling sedikit selama 30 jam per minggu." Selama itu, anak kita hanya duduk sehingga memberi dampak pada sendi-sendi tulangnya. Seperti dikemukakan Rab A.B., di London terdapat fenomena "Repetitive Strain Injury" (RSI) yang melanda anak berusia tujuh tahun. Penyakit ini semacam nyeri sendi yang menyerang anak-anak pecandu video game. Jika tidak ditangani secara serius, dampak yang terparah adalah menyebabkan kecacatan pada anak. Hal semacam inilah yang seharusnya patut kita perhatikan.
3. Aspek Psikologis Berjam-jam duduk untuk bermain video game berdampak juga pada keadaan psikis anak. Anak dapat berperilaku pasif atau sebaliknya anak akan bertindak sangat aktif atau agresif. Perilaku pasif yang biasa muncul adalah anak jadi apatis dengan lingkungan sekitar, kehidupan sosialisasi anak agak sedikit terganggu karena anak jauh lebih senang bermain dengan game-gamenya daripada bergaul dengan teman-temannya. Video game dapat juga menyebabkan anak dapat berperilaku aktif bahkan bisa agresif. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh game-game yang banyak menghadirkan adegan kekerasan. Dalam waktu selama itu, anak hanya berinteraksi dengan kekerasan, gambar yang bergerak cepat, ancaman yang setiap detik selalu bertambah besar, serta dorongan untuk membunuh secepat-cepatnya. Sangat mengerikan sekali jika tidak ada kontrol dari orang tua untuk menyikapi hal tersebut.

Jika anak kita belum terlanjur kecanduan video game, ambillah langkah yang bijak dalam menangani masalah ini. Berikut langkah yang bisa diambil.
1. Berikan waktu luang dan perhatian yang banyak kepada anak-anak Anda. Ada kesan bahwa orang tua yang sibuk bekerja dengan mudah menyediakan perangkat video game hanya karena tidak mau repot dengan anak. Mereka mau membelikan apa pun asalkan dapat membuat anak diam. Seharusnya, orang tua boleh memberikan mainan yang anak minta asalkan ada kendali juga dari orang tua. Padahal cara ini bisa berdampak pada lemahnya keterampilan emosi anak.
2. Orang tua harus lebih selektif dalam mencarikan mainan untuk anak-anaknya. Sebisa mungkin permainan yang mempunyai unsur edukatif, bukan permainan yang memertontonkan adegan kekerasan.
3. Buatlah sebuah peraturan yang dibuat oleh Anda dengan anak Anda secara bersama-sama. Di antaranya perihal batasan waktu antara bermain game, belajar, dan kegiatan sosialisasi anak dengan teman-temannya.
4. Orang tua harus menanamkan pemahaman keagamaan kepada anak dengan baik. Dari segi kerohanian, orang tua dapat melibatkan anak secara aktif dalam kegiatan sekolah minggu, mengadakan doa, atau saat teduh bersama anak di rumah. Sebab hal ini akan berpengaruh kepada moral anak.

3. INTERNET
Bagi konsultan pendidikan Colleen Moulding, sangat penting bagi orang tua untuk memproteksi anak-anak mereka dari pengaruh buruk internet. "Tapi juga bukan berarti mereka dilarang sama sekali untuk mengetahui dan menggunakannya. Yang paling penting bagi orang tua adalah mengetahui bagaimana memproteksi anak-anak mereka dari situs-situs yang belum pantas mereka konsumsi," terangnya.

Berikut ini sepuluh tips dari Moulding bagi Anda.
1. Hal paling utama yang dapat Anda lakukan adalah dengan memastikan "keamanan" si kecil dari situs-situs tertentu. Tetaplah waspada saat mereka menggunakan teknologi ini. "Jangan biarkan si kecil menggunakan internet di dalam kamar mereka atau di ruangan terpisah dari keluarga," saran Moulding. Apabila memang tidak dapat dihindari, pastikan Anda terus mengawasi dan mengamati apa yang tengah mereka lakukan.
2. Terapkan peraturan yang tegas dan konsisten tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan si kecil. Tetapkan tak ada fasilitas e-mail, "chat room", atau berikan "chat room" tertentu yang Anda pilihkan untuknya. Lakukan kesepakatan dengan anak-anak tentang situs apa saja yang boleh dan yang tidak boleh dibuka. Bila perlu, lakukan proteksi agar mereka hanya bisa membuka situs-situs tertentu saja.
3. Berpartisipasilah saat ia tengah menelusuri internet. Biarkan mereka memerlihatkan situs-situs kegemaran mereka, atau membacakan e-mail dari teman-temannya dan menjelaskan apa yang tengah mereka lakukan. Ini bukan saja membuat si kecil merasa diperhatikan, tetapi Anda pun tahu apa yang digemari si kecil saat bermain internet.
4. Unduhlah beberapa program penyaringan (filtering) yang mampu memblokir kemungkinan penyadapan identitas si kecil oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Tekankan pada mereka tentang pentingnya menjaga kerahasiaan identitas mereka.
5. Untuk balita, Anda bisa memberikan situs khusus anak-anak bagi mereka, misalnya di www.surfmonkey.com yang memungkinkan Anda mengunduh gratis beberapa program yang aman baginya. Pastikan situs pilihan Anda itu memunyai gambar dan permainan edukatif yang disukai anak-anak.
6. Anak-anak usia sekolah umumnya lebih kritis dan rentan dibanding anak balita. Misalnya, tanpa sepengetahuan kita, putri kita bertemu dengan orang yang hanya ia kenal melalui "chat room" yang belum tentu berniat baik. Jadi, tekankan pada mereka untuk tidak bertemu dengan siapa pun yang ia kenal melalui internet, kecuali bila didampingi orang tua.
7. Berilah pengertian padanya bahwa apa yang ada di dunia maya itu tidak seratus persen nyata. Mungkin hal ini tidak sulit mereka terima pada awalnya. Tetapi bagaimanapun, si kecil harus mulai belajar menghadapi kenyataan. Tanyakan dan diskusikan pengetahuan baru yang ia dapatkan, berikan penjelasan tentang apa yang nyata dengan apa yang hanya sekadar opini.
8. Ajarkan mereka untuk tidak "bermain api" dengan mengirimkan hal-hal yang tidak baik bagi orang lain -- betapa pun marahnya ia kepada orang yang ingin ia kirimi itu. Karena informasi yang disebarkan melalui internet, semua orang bisa membacanya dan tidak dapat ditarik kembali.
9. Mereka juga harus tahu bahwa mengambil gambar, tulisan, atau pun musik dari situs tertentu tanpa izin akan membuat kesulitan bagi dirinya kelak. Hal ini sama saja dengan mencuri hasil kerja seseorang.
10. Beritahukan pula agar mereka tidak membayar apa pun tanpa sepengetahuan dan pengawasan orang tua -- terutama dengan memberikan nomor kartu kredit orang tua tanpa izin. Jelaskan pada mereka tentang hal ini sesuai dengan kemampuan pemahaman mereka.

TIPS
Berikut ini adalah tips untuk mengenali anak kita:
1. Memperhatikan. Perhatikanlah pakaian, gaya rambut, komunikasi yang tidak lisan, teman-teman, minat, perubahan dalam kebiasaan, temperamen, perasaan, musik, program TV, video game, e-mail, perkataan, sikap, tingkah laku, kenaikan kelas, ke mana mereka pergi, dan sebagainya. Dengan kata lain, perhatikanlah semua.

2. Berbicara. Berbicaralah (termasuk banyak mendengarkan) mengenai perasaan, pikiran, pendapat, sukacita, luka batin, hal-hal biasa, seksualitas, keuangan, benar dan salah, dsb.. Tidak ada batasnya. Berbicara yang disertai banyak mendengarkan akan mengomunikasikan kehangatan, kepedulian, minat, keprihatinan, kasih, dan empati. ’Anak-anak yang bicara dengan orang tua lebih banyak, lebih punya ketahanan di luar,” Membicarakan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Beri tahu pula bagaimana caranya secara konkret.

3. Kebenaran. Sampaikanlah kepada anak-anak Anda kebenaran mengenai Allah, moralitas, diri Anda sendiri, dan dunia di sekitar mereka.

4. Kepercayaan. Percayailah anak-anak Anda dan bersikaplah konsisten sehingga mereka dapat belajar bagaimana memercayai seseorang dari memercayai Anda.

5. Kebersamaan. Biarlah anak Anda mengetahui bahwa Anda "beserta" mereka, bukan "melawan" mereka. Anda dan mereka bukanlah musuh. Sebagai keluarga, Anda bekerja bersama, bukan memisahkan diri.

6. Sentuhan. Anak-anak Anda membutuhkan sentuhan jasmani, pelukan, ciuman, dekapan, dan segala macam sentuhan yang tepat.

7. Ucapan terima kasih. Suatu sikap yang berterima kasih bermanfaat bagi kedua belah pihak. Katakanlah kepada anak Anda betapa Anda berterima kasih untuk adanya mereka, dan mereka juga akan mulai mengatakan hal yang sama kepada Anda.

8. Waktu. Anak-anak membutuhkan Anda. Kehadiran Anda tidak dapat digantikan oleh barangdan uang.

9. Pengajaran. Anda adalah guru utama bagi anak Anda, bukan sekolah, gereja, klub, tutor, atau pelatih.

10. Hati Bapa Sorgawi. Bagi seorang anak, gambar pertama mengenai Allah dilukis oleh orang tuanya.

11. Ucapkanlah kehidupan, bukan kematian, kepada anak-anak Anda. "Maafkan ayah. Ayah tidak benar-benar mau mengatakan itu." Dalih-dalih yang kita kemukakan setelah kita mengucapkan kematian tidak akan menghilangkan kerusakan dari racun yang kita masukkan dalam hati si anak. Bila kita tidak bermaksud begitu, jangan mengatakannya. Berpikirlah sebelum Anda berbicara. Pastikanlah bahwa Anda mengucapkan perkataan yang membangun, bukan meruntuhkan hidup seorang anak. Jagalah diri Anda agar tetap menjadi orang yang bertanggung jawab. Selama seminggu, catatlah dalam jurnal harian Anda semua pernyataan positif dan negatif yang Anda ucapkan kepada anak Anda. Apakah yang negatif lebih banyak daripada yang positif? Mengucapkan kehidupan ke dalam diri seorang anak dimulai dengan penerimaan dan mendengarkan, serta melimpah dengan peneguhan, membesarkan hati, membangun, mendukung, dan mengucapkan hal-hal yang berarti dalam kehidupan si anak setiap hari. Daripada terus-menerus menyampaikan kritik, cobalah menyampaikan koreksi yang positif dan pujian supaya anak dapat bertumbuh dan menjadi matang. "Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakan, akan memakan buahnya" (Amsal 18:21).

LAKUKAN PERINTAHNYA DAN RASAKAN JANJINYA DIGENAPI
Mendidik anak sejak usia dini adalah PERINTAH mutlak dari Tuhan. Salah satu ayat yang populer tentang perintah mendidik anak ini tertuang secara rinci dalam Ulangan 6:5-9. Bila kita mencintai Tuhan, maka kita akan melakukan perintah-Nya dengan sungguh-sungguh, termasuk dalam hal mendidik anak. Bila orang tuanya takut akan Tuhan dan membawa anak-anaknya kepada Tuhan dengan benar, maka bisa dipastikan anak-anaknya akan menjadi anak yang takut akan Tuhan. Jadi, bila kita rindu anak-anak kita dilindungi dari pengaruh jahat dunia ini dan menjadi anak-anak yang bisa kita banggakan, maka tidak ada cara yang lebih baik selain membawa mereka kepada Tuhan. Mengenalkan Kristus sebagai Juruselamat mereka sejak kecil dan menanamkan Firman Tuhan dalam hati mereka setiap hari, sebab Firman itu akan bekerja dengan baik dalam kehidupan mereka. Maka janji dalam Amsal 22:6 bahwa di masa tua mereka tidak akan berpaling dari jalan itu, pasti digenapi. Amin.

Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. RAJAWALI KECIL - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger