Home » » TEHNIK BERCERITA

TEHNIK BERCERITA

Mengawali Cerita
Agar sebuah cerita menjadi menarik bagi anak-anak, perlu diperhatikan bagaimana guru mengawali cerita tersebut. Awal cerita merupakan penentu apakah anak akan tertarik dan mengikuti cerita selanjutnya. Berikut ini ada beberapa cara mengawali cerita, yaitu :


  1. Mulai langsung pada adegan pertama cerita, tanpa kalimat pembukaan.

    Misalnya: "Ssstttt....jangan berisik. Dengar tidak tadi ada suara orang mengetuk? (anak-anak masih bingung, tapi langsung perhatian). Tok..tok..tok..(guru mengetuk, mic, meja, dll). Jangan berisik..tadi ada orang mengetuk pintu. Semua orang langsung ketakutan. Mereka berpikir itu tentara romawi yang akan menangkap mereka. Tapi si ibu ini langsung menenangkan mereka. Tiba-tiba ada suara orang mengetuk dan mengucapkan shaloom..." Orang-orang masih ketakutan, tetapi si ibu ini kenal betul suara siapa itu...dst" (cerita tentang Petrus dibawa keluar dari penjara oleh malaikat, ibu tadi namana siapa ya???? Ada yang tahu?)

  2. Persoalan-persoalan yang terjadi saat ini dihubungkan dengan persoalan dalam cerita.

    Misalnya: "Wah, panas sekali ya adik-adik. Memang kalau kemarau, rasanya panaaas sekali. Apalagi banyak debu di jalan terus...(biarkan anak-anak menyebutkan apa saja yang terjadi kalau kemarau). padahal ini hanya kemarau beberapa bulan saja. Kira-kira bagaimana ya kalau kemaraunya sampai tiga setengah tahun??? dst. (cerita selanjutnya adalah kisah Nabi Elia yang meminta Tuhan menciptakan kemarau panjang di tanah Israel, karena kejahatan mereka menyembah ilah lain, yang dipimpin oleh keluarga raja Ahab. bisa juga ke kisah perlombaan Elia melawan nabi-nabi baal di gunung Karmel)


  3. Penjelasan istilah baru dapat menjadi permulaan cerita.

    Misalnya: "Adik-adik tahu tentang kusta? (kebanyakan anak tidak tahu, karena di indonesia lebih dikenal lepra. Kusta adalah penyakit kulit yang berbahaya. Mulanya seperti panu, ada bercak putih di kulit. Lama kelamaan bila tidak diobati akan membuat bagian tubuh yang terserang kusta, tanggal satu persatu. hiii..ngeri ya. Zaman dulu, di Israel, kalau ada yang sakit kusta, dianggap kena kutukan Tuhan. Ia harus diasingkan dari orang sehat. Biasanya mereka tinggal di goa-goa, pekuburan, dan tempat-tempat terpencil. Kalau mereka masuk perkampungan, mreka harus menyelubungi semua tubuhnya dengan kain sambil membawa lonceng kecil dan berkata 'najis..najis..." Nah kalau di depan rumah ada yang lewat sambil membunyikan lonceng dan bilang najis-najis, adik-adik jangan bilang, Ma, beli es najis he he he he...dst. (cerita selanjutnya: Yesus menyembuhkan orang yang sakit kusta/10 orang kusta)


  4. Tujuan cerita dapat menjadi permulaan cerita

    Misalnya: Tujuan cerita: Jangan Sombong
    "Adik-adik, boleh nggak sih kita sombong? (biarkan anak-anak menjawab) Kenapa nggak boleh sombong? (Biarkan anak-anak mengemukakan pendapat)Ya, Tuhan Yesus juga mengatakan bahwa siapa yang meninggikan diri akan direndahkan, tapi yang merendahkan diri akan ditinggikan (cari dimana ayatnya hayooo). Makanya kita nggak boleh sombong...seperti yang terjadi 2000 tahun yang lalu pada orang ini...dst (cerita tentang herodes yang dipukul malaikat karena meninggikan diri sebagai Tuhan)


  5. Dengan alat peraga.

  6. Sebuah alat peraga, misalnya salib, bisa kita jadikan untuk mengawali cerita. Kita jelaskan dulu tentang salib...dst. baru masuk ke cerita. Atau tempayan, kendi, senter, dll...

  7. Dengan cerita ilustrasi

  8. Buat ilustrasi pendek, misalnya cerita kehidupan sehari-hari, fabel, atau legenda, kita ceritakan pendek, sebelum kita masuk ke cerita utama.



Hal-hal yang perlu dihindari dalam memulai sebuah cerita


  • Menanyakan cerita minggu lalu lebih dari tiga minggu

  • Melepaskan pokok cerita di awal cerita, mis. Adik-adik, hari ini kita akan mendengarkan cerita tentang Nuh yang disuruh Tuhan membuat bahtera sehingga keluarganya selamat.

  • Menanyakan sesuatu yang tidak berhubungan dengan cerita, mis. Anak-anak kalian suka mendengar cerita ? Apakah kalian sudah makan ? dsb.


  • Bagaimana Menyampaikan Cerita Secara Sistematis?

    Bila kita dapat memulai sebuah cerita dengan baik dan menarik, maka perhatian anak tidak akan beralih dari cerita tersebut. Untuk itu kita harus dapat menentukan siapa yang akan menjadi pemeran utama dalam cerita tersebut. Kemudian kita dapat membuat susunan ceritanya. Dari permulaan hingga, klimaks, cerita terus berkembang, sampai pada puncaknya persoalan dipecahkan dan klimaks tercapai. Tiba pada puncak cerita, kalimat menjadi pendek dan tidak perlu dijelaskan lagi. Dengan cara ini kita menekankan puncak cerita.


Bagaimana Mengakhiri Cerita
Bagian terakhir cerita adalah penutup. Bagian ini seringkali dilewatkan oleh guru. Biasanya guru hanya sampai pada klimaks cerita tetapi lupa mengakhirinya. Biasanya penutup terdiri dari beberapa kalimat saja. Penyelesaian penting sekali karena anak harus dipuaskan.

Trik-trik agar cerita lebih hidup dan menarik

  • Gunakan imajinasi dan kreasi kita untuk melihat kebutuhan anak saat ini.

  • Buatlah cerita Alkitab menjadi tampak baru bagi anak-anak

  • Menyembunyikan nama-nama tokoh dalam cerita

  • Gunakan “flash back” atau alur mundur, dsb

  • Gunakan Simulasi selama cerita


1. Menyusun batang korek api. Anak-anak dibagi dalam beberapa kelompok Guru bercerita satu babak lalu anak disuruh menyusun batang korek api menjadi menara. Setelah waktu yang ditetapkan guru, anak-anak harus berhenti dari aktifitasnya. Guru bercerita lagi satu babak, anak disuruh menyusun lagi…dst.
2. Tokoh tersembunyi. Anak-anak dibagi dalam beberapa kelompok. Guru menyembunyikan seorang tokoh dalam Alkitab di balik tirai. Guru berdialog dengan tokoh tersembunyi. Sekali-sekali anak-anak diberi kesempatan bertanya pada sang tokoh…
3. Memerankan cerita.
4. dsb……

Trik membuat anak tenang selama bercerita

  • Gunakan “bom kejutan” di tengah cerita, bila anak-anak kelihatan tidak memperhatikan cerita lagi

  • Jadikan anak yang suka membuat keributan sebagai ketua kelompok

  • Gunakan alat peraga.


Prinsip-prinsip dalam bercerita
1. Bawalah Alkitab agar anak tidak berpikir apa yang disampaikan guru hanya dongeng belaka.
2. Jangan membawa buku pegangan karena berkesan guru kurang persiapan.
3. Gunakan bahasa/istilah sesuai dengan tingkat umur anak yang diajar sehingga mudah dimengerti anak.
4. Jangan memberikan aplikasi/penerapan untuk dilakukan anak, lebih dari satu dari sebuah cerita yang disampaikan.



Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. RAJAWALI KECIL - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger